Ingat lima perkara,
Sebelum lima perkara,
Sehat sebelum sakit,
Muda sebelum Tua,
Kaya sebelum Miskin,
Lapang sebelum Sempit,
Hidup, sebelum mati ….
(Demi Masa, Raihan)
Saya sakit, dan untuk pertama kalinya seumur hidup saya, harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Padahal pagi harinya saya masih segar bugar dan bisa berangkat ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Tapi justru di kantor itulah saya jatuh sakit, dan akhirnya, diantar suami dengan meminjam mobil kantor, dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif mengingat perawat di polikinik di perusahaan saat itu sudah angkat tangan. Saya divonis mengalami pembengkakan ginjal akibat infeksi saluran kencing, dan harus dirawat empat hari lamanya. Empat hari yang mengingatkan saya, akan nikmat yang telah Allah berikan pada saya selama ini, yang masih suka lupa saya syukuri.
Saat saya sakit, tangan kanan saya diinfus (vena ditangan kiri saya tidak tampak, sehingga perawat memasang infus di tangan kanan), dan setelah beberapa waktu, bengkak dengan sukses dan sangat sulit untuk digerakkan. Padahal nyaris semua aktifitas harus dilakukan dengan tangan kanan, bukan? Secara otomatis untuk semua aktifitas yang biasanya dilakukan dengan tangan kanan, saya harus belajar menggunakan tangan kiri, atau dibantu suami. Makan, mandi, mengambil sesuatu bahkan saat ada nyamuk yang hinggap di tangan kiri saya, saya sulit menepuknya. Selama ini pernahkan saya bersyukur untuk tangan kanan saya yang sehat? Tidak, saya lebih sering lupa.
Hari kedua dirumah sakit saya kena marah perawat karena darah naik ke selang infus. Proses pembersihannya memakan waktu dan menimbulkan rasa nyeri. Penyebabnya sepele, karena saya sholat dengan “sempurna”. Saya tahu ada rukshah untuk orang sakit seperti saya, saya bisa sholat dengan berbaring atau duduk. Waktu itu saya sholat sambil duduk, tapi melakukan takbir dengan “sempurna” (anda tahu kan maksud saya). Dan karena terlalu banyak bergerak itulah darahnya jadi naik ke selang. Allah, betapa lalainya saya dari menyadari kalau bisa melakukan sholat dengan sempurna adalah nikmat-Mu yang tak terhingga.
Selama empat hari di rumah sakit, suami saya dengan begitu sabar dan telaten merawat saya. Di usia pernikahan kami yang masih berbilang bulan, saya sangat bersyukur telah diberi Allah hadiah seorang suami sepertinya. Sungguh hadiah terindah dalam hidup saya, dan saya merasa sangat beruntung.
Empat hari, dan tidak satu haripun saya lewati tanpa mengingat Allah dan segala nikmat yang telah ia berikan pada saya. Sakit ini, saya bersyukur, telah mengingatkan saya yang kerap lupa ini. Saya tahu Allah sayang pada saya, sangat sayang pada saya. Sehingga saya diingatkan, agar kembali kepada-Nya. Agar memperbaiki kualitas diri saya dalam beribadah kepada-Nya (ngaku nih …). Semoga saya bisa lebih ingat lagi, dan lebih bersyukur lagi, bukan hanya saat saya sakit, terutama disaat saya sehat.
Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
It's all about Jeng sirhan world, and view, and opinion, and recipe, and anything ....
Rabu, 01 Juni 2011
Jumat, 13 Mei 2011
Hospitalize (1)
Rumah Sakit adalah sesuatu yang sangat “asing” bagi saya. Seumur hidup saya tidak pernah “mengenalnya”. Bukan berarti saya tidak pernah sakit, hanya saja saya memang belum pernah sakit yang memerlukan perawatan di Rumah Sakit. Kalaupun saya ke Rumah Sakit, biasanya hanya sekedar untuk berkunjung, atau menjaga kerabat saya yang tengah sakit.
Beberapa waktu yang lalu saya akhirnya berkenalan juga dengan yang namanya Rumah Sakit. Ya, saya jatuh sakit, kali ini “cukup” untuk membuat saya harus di rawat di rumah sakit. Ginjal saya mengalami pembengkakan, karena infeksi bakteri dari saluran kencing yang sudah naik ke ginjal. Kira-kira begitulah penjelasan dari dokter yang menangani saya waktu itu. Saya sendiri juga tidak begitu paham. Padahal selama ini saya juga sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menjaga kesehatan. Banyak minum air putih, makan makanan yang bergizi ditambah olahraga semua sudah saya lakukan, tapi saya tetap bisa jatuh sakit. Allah memang sudah mengatur demikian sepertinya.
Dua hari sebelum dirawat saya mengalami “anyang-anyangen”, sering BAK dan terasa panas setelah selesai BAK. Hari itu sebenarnya saya memang sudah berencana akan periksa ke dokter jika tetap anyang-anyangen. Tapi kenyataan berkata lain. Pagi hari saya bangun tidur dengan pinggang sebelah kiri yang terasa nyeri, saya tidak berprasangka apa-apa, mungkin salah posisi tidur, pikir saya waktu itu. Saya pun berangkat bekerja seperti biasanya dengan mengabaikan rasa sakit itu. Dua jam di kantor, rasa sakit di pinggang saya semakin parah. Saya memutuskan untuk ke poliklinik meminta tablet pereda nyeri kemudian kembali ke meja untuk melanjutkan pekerjaan saya. Obat belum sempat saya minum, rasa sakit itu kembali menyerang sehingga akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat saja di poliklinik.
Rasa sakit di pinggang sebelah kiri saya semakin menjadi, saya akhirnya menelpon suami (yang sekantor dengan saya tapi di bagian lain) untuk menjenguk saya di poliklinik karena rasa sakitnya sudah tidak tertahankan. Melihat keadaan saya akhirnya suami memutuskan untuk langsung membawa saya ke rumah sakit dengan meminjam mobil perusahaan. Suami sengaja membawa saya langsung ke rumah sakit yang menjadi rekanan asuransi kesehatan kami, agar jika saya harus di rawat inap, kami tidak perlu memikirkan lagi tentang biayanya. Ternyata benar, setelah melewati pemeriksaan urine dan USG, dokter memang menyatakan bahwa saya harus dirawat inap, karena sakit yang saya derita tidak memungkinkan jika hanya sekedar rawat jalan.
Saya ini tidak begitu tahan sakit, takut jarum dan agak kebal pada analgesic (pereda nyeri). Jadi butuh “perjuangan” tersendiri bagi para perawat-perawat yang menangani saya untuk sekedar memasang jarum infus. Saya tegang, otomatis vena di punggung tangan saya jadi hilang. Masuknya jarum infus itu nyeri sekali, dan tidak cukup sekali. Karena infus yang awalnya dipasang ditangan kiri tidak mau jalan, akhirnya infus dipindah di tangan kanan. Belum lagi salah satu dari empat obat yang dimasukkan lewat suntikan ke infus. Rasanya sangat nyeri saat obat itu sudah masuk ke badan.
Awalnya saya tidak begitu memperhatikan dimana saya akan ditempatkan. Saya punya asuransi, dan rumah sakit yang saya tempati adalah rekanan perusahaan asuransi saya. Saya dengar kakak ipar dan suami meminta agar saya di rawat di VIP sesuai pertanggungan asuransi dan meminta obat kelas A, yang terbaik yang ada. Saya masih sangat kesakitan saat itu, hingga saya serahkan semua keputusan pada mereka.
Kamar yang saya tempati cukup nyaman, dilengkapi penyejuk ruangan dan beberapa barag berkualitas, ditambah kamar mandi dalam yang akan memudahkan jika saya butuh BAK ataupun BAB. Saya sempat berpikir berapa biaya yang harus kami keluarkan seandainya kami tidak punya asuransi dan dirawat di kamar seperti ini, belum lagi untuk obat dan biaya lain-lainnya. Uang dari mana, tabungan kami masih kosong dan baru dalam tahap memulai lagi setelah nyaris terkuras untuk biaya pernikahan kami enam bulan sebelumnya. Saya sangat bersyukur dengan keputusan untuk mengikuti asuransi ini. Suami saya benar, kami tidak bisa menjamin akan terus selamanya sehat dan tidak butuh perawatan rumah sakit sama sekali.
Soal keputusan untuk mengikuti asuransi ini, awalnya sempat menimbulkan perbebatan antara saya dan orang tua. Bagi ibu saya, mengikuti asuransi seperti berharap sakit. Dan terutama beliau keberatan dengan preminya yang seperempat gaji saya tiap bulan di awal saya memulai membuka asuransi. Saat itu saya tetap pada keputusan saya, dan ternyata benar, sekarang asuransi saya terpakai juga (meskipun saya tidak ingin memakainya lagi di kemudian hari ). Saya bersyukur tetap mengikuti kata hati saya saat itu, ketimbang menuruti permintaan orang tua.
Selama di rumah sakit hari-hari terasa begitu panjang untuk saya. Mungkin karena tidak ada kegiatan apa-apa, cuma tiduran saja, paling – paling juga nonton tivi. Suami saya tidak membawakan buku, dan tidak membeli koran juga, sementara untuk menulis juga tidak mungkin. Tangan kanan saya yang diinfus bengkak sampai dua kali besarnya. Kaku dan sulit digerakkan. Saya mencoba menulis di handphone suami, mengetik dengan tangan kiri ternyata sulit juga. Pendek kata saya benar-benar bosan. Ditambah lagi tentang ketakutan saya pada jarum suntik. Saya tahu perawat akan memasukkan obat melalui infus, tapi tetap saja saya ngeri melihat jarum suntik yang selalu dijajarkan dengan rapih, lima setiap kalinya, di nampan obat. Benar-benar tidak nyaman.
Allah, ternyata kesehatan adalah nikmat yang tak terkata. Mereka yang sedang sakit pasti menyadarinya. Tapi saat sehat, pernahkah kita, anda atau saya sendiri mensyukurinya? Satu hal yang terpatri dalam diri saya, saya akan lebih bersyukur pada Allah dengan nikmat sehat yang telah Allah berikan pada saya selama ini, dan semoga setelah ini, saya tidak lupa lagi, dan baru mengingatnya saat saya telah terbaring lemah, dalam kondisi sakit.
Tangan saya yang bengkak
Beberapa waktu yang lalu saya akhirnya berkenalan juga dengan yang namanya Rumah Sakit. Ya, saya jatuh sakit, kali ini “cukup” untuk membuat saya harus di rawat di rumah sakit. Ginjal saya mengalami pembengkakan, karena infeksi bakteri dari saluran kencing yang sudah naik ke ginjal. Kira-kira begitulah penjelasan dari dokter yang menangani saya waktu itu. Saya sendiri juga tidak begitu paham. Padahal selama ini saya juga sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menjaga kesehatan. Banyak minum air putih, makan makanan yang bergizi ditambah olahraga semua sudah saya lakukan, tapi saya tetap bisa jatuh sakit. Allah memang sudah mengatur demikian sepertinya.
Dua hari sebelum dirawat saya mengalami “anyang-anyangen”, sering BAK dan terasa panas setelah selesai BAK. Hari itu sebenarnya saya memang sudah berencana akan periksa ke dokter jika tetap anyang-anyangen. Tapi kenyataan berkata lain. Pagi hari saya bangun tidur dengan pinggang sebelah kiri yang terasa nyeri, saya tidak berprasangka apa-apa, mungkin salah posisi tidur, pikir saya waktu itu. Saya pun berangkat bekerja seperti biasanya dengan mengabaikan rasa sakit itu. Dua jam di kantor, rasa sakit di pinggang saya semakin parah. Saya memutuskan untuk ke poliklinik meminta tablet pereda nyeri kemudian kembali ke meja untuk melanjutkan pekerjaan saya. Obat belum sempat saya minum, rasa sakit itu kembali menyerang sehingga akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat saja di poliklinik.
Rasa sakit di pinggang sebelah kiri saya semakin menjadi, saya akhirnya menelpon suami (yang sekantor dengan saya tapi di bagian lain) untuk menjenguk saya di poliklinik karena rasa sakitnya sudah tidak tertahankan. Melihat keadaan saya akhirnya suami memutuskan untuk langsung membawa saya ke rumah sakit dengan meminjam mobil perusahaan. Suami sengaja membawa saya langsung ke rumah sakit yang menjadi rekanan asuransi kesehatan kami, agar jika saya harus di rawat inap, kami tidak perlu memikirkan lagi tentang biayanya. Ternyata benar, setelah melewati pemeriksaan urine dan USG, dokter memang menyatakan bahwa saya harus dirawat inap, karena sakit yang saya derita tidak memungkinkan jika hanya sekedar rawat jalan.
Saya ini tidak begitu tahan sakit, takut jarum dan agak kebal pada analgesic (pereda nyeri). Jadi butuh “perjuangan” tersendiri bagi para perawat-perawat yang menangani saya untuk sekedar memasang jarum infus. Saya tegang, otomatis vena di punggung tangan saya jadi hilang. Masuknya jarum infus itu nyeri sekali, dan tidak cukup sekali. Karena infus yang awalnya dipasang ditangan kiri tidak mau jalan, akhirnya infus dipindah di tangan kanan. Belum lagi salah satu dari empat obat yang dimasukkan lewat suntikan ke infus. Rasanya sangat nyeri saat obat itu sudah masuk ke badan.
Awalnya saya tidak begitu memperhatikan dimana saya akan ditempatkan. Saya punya asuransi, dan rumah sakit yang saya tempati adalah rekanan perusahaan asuransi saya. Saya dengar kakak ipar dan suami meminta agar saya di rawat di VIP sesuai pertanggungan asuransi dan meminta obat kelas A, yang terbaik yang ada. Saya masih sangat kesakitan saat itu, hingga saya serahkan semua keputusan pada mereka.
Kamar yang saya tempati cukup nyaman, dilengkapi penyejuk ruangan dan beberapa barag berkualitas, ditambah kamar mandi dalam yang akan memudahkan jika saya butuh BAK ataupun BAB. Saya sempat berpikir berapa biaya yang harus kami keluarkan seandainya kami tidak punya asuransi dan dirawat di kamar seperti ini, belum lagi untuk obat dan biaya lain-lainnya. Uang dari mana, tabungan kami masih kosong dan baru dalam tahap memulai lagi setelah nyaris terkuras untuk biaya pernikahan kami enam bulan sebelumnya. Saya sangat bersyukur dengan keputusan untuk mengikuti asuransi ini. Suami saya benar, kami tidak bisa menjamin akan terus selamanya sehat dan tidak butuh perawatan rumah sakit sama sekali.
Soal keputusan untuk mengikuti asuransi ini, awalnya sempat menimbulkan perbebatan antara saya dan orang tua. Bagi ibu saya, mengikuti asuransi seperti berharap sakit. Dan terutama beliau keberatan dengan preminya yang seperempat gaji saya tiap bulan di awal saya memulai membuka asuransi. Saat itu saya tetap pada keputusan saya, dan ternyata benar, sekarang asuransi saya terpakai juga (meskipun saya tidak ingin memakainya lagi di kemudian hari ). Saya bersyukur tetap mengikuti kata hati saya saat itu, ketimbang menuruti permintaan orang tua.
Selama di rumah sakit hari-hari terasa begitu panjang untuk saya. Mungkin karena tidak ada kegiatan apa-apa, cuma tiduran saja, paling – paling juga nonton tivi. Suami saya tidak membawakan buku, dan tidak membeli koran juga, sementara untuk menulis juga tidak mungkin. Tangan kanan saya yang diinfus bengkak sampai dua kali besarnya. Kaku dan sulit digerakkan. Saya mencoba menulis di handphone suami, mengetik dengan tangan kiri ternyata sulit juga. Pendek kata saya benar-benar bosan. Ditambah lagi tentang ketakutan saya pada jarum suntik. Saya tahu perawat akan memasukkan obat melalui infus, tapi tetap saja saya ngeri melihat jarum suntik yang selalu dijajarkan dengan rapih, lima setiap kalinya, di nampan obat. Benar-benar tidak nyaman.
Allah, ternyata kesehatan adalah nikmat yang tak terkata. Mereka yang sedang sakit pasti menyadarinya. Tapi saat sehat, pernahkah kita, anda atau saya sendiri mensyukurinya? Satu hal yang terpatri dalam diri saya, saya akan lebih bersyukur pada Allah dengan nikmat sehat yang telah Allah berikan pada saya selama ini, dan semoga setelah ini, saya tidak lupa lagi, dan baru mengingatnya saat saya telah terbaring lemah, dalam kondisi sakit.
Tangan saya yang bengkak
Kamis, 14 April 2011
Puding Jagung Lapis Coklat Ha Ha Ha
Weekend kemarin tiba-tiba aja pengen berkarya di dapur bikin apa gitu. Mumpung libur dan pengen aja menambah kemampuan di bidang perdapuran yang memang minim banget. Pingin buat snack atawa kudapan yang enak dimakan saat udara mulai panas di siang hari. Celingak-celinguk di kulkas mungil milik mommy, kira-kira apa ya yang bisa disulap jadi sesuatu yang seger … gitu, eh, nemu jagung manis sebiji sisa kemarin bikin dadar jagung. Trus ada agar – agar coklat plus agar-agar plain, tuing, knapa gak bikin pudding aja … nyoba resep pudding jagung yang itu tuh, trus dilapis sama pudding coklat, kan enak, kebetulan juga ada susu kental manis sachet buat campurannya.
Mulailah berkarya di dapur mungil tercinta dengan mengerahkan segenap tenaga (he he he). Pertama kali nie buat pudding jagung. So kupatuhi semua instruksi yang ada di resepnya. Plek pokoknya sama sang resep. Klo si pudding coklat aku ngarang-ngarang aja, tapi hasilnya, lah, kok malah enak pudding coklatnya ya ( he …)
Pas mateng pudding jagungnya sih kliatan oke, rasanya manis, tapi kek kurang apa… gitu. Diaduk-aduk terus biar santannya gak pecah trus hasilnya bagus. Aku nyiapin dua loyang coz memang udah rencana buat dua, satu tuk dirumah dan satunya lagi mo dibawa ke rumah Mamak. Yang buat di rumah, maunya buat dua lapis aja, jagung diatas, trus ntar bawahnya pudding coklat. Klo yang buat Mamak mertua tercinta ntar berlapis-lapis.
Loyang kedua yang buat Mamak hasilnya oke punya, karena lapisannya tipis so cepet beku dan antara pudding coklat dan jagung gak nyampur. Kecelakaan justru terjadi di Loyang pertama. Puding jagungnya yang ku kira udah beku ternyata belum beku sempurna, so saat kutuang pudding coklat diatasnya, permukaannya langsung pecah sodara-sodara ….. dan dengan sukses pudding coklatnya nyampur dengan pudding jagung ….. untung nuangnya baru satu sendok sayur…
Seperti inilah jadinya saat udah beku (harap maklum, masih belajar masak, belajar motret juga…)
He he, kayak lapis tiga yak …
Yah, namanya juga masih taraf belajaran, trus pas mamak ngicipi rasanya, katanya pudding coklatnya dah enak, tapi pudding jagungnya manisnya enek gitu, gak bisa gurih. Dan menurut beliau lagi, semua bahan klo pake santan harus ditambah sedikit garam (1/2 sdt) gitu, biar gurih dan mantappp. Makasih mamak, akan kuingat slalu nasehat darimu …
RESEP PUDING JAGUNG
Source: dapurdiva@blogspot.com
Bahan :
1 buah jagung manis, sisir dan blender sampe lembut sama 1 gelas air (225 cc)
1 sachet agar – agar plain (5 gr)
3 gelas (675 cc) air/ santan/ susu low fat (aku pake santan 1½ gelas dan air 1½ gelas juga)
1 sdm vanilla essence (aku gak pake)
7 sdm gula pasir (aku pake 6 sendok aja coz jagungnya udah manis)
½ sdt garam (di resep awal gak ada so kmarin aku juga gak pake)
Cara Membuat :
Siapkan cetakan, basahi dengan air, biar puding gampang kluarnya.
Campur blenderan jagung sama air/susu/santan (klo aku jagungnya tak saring dulu biar kulit arinya gak ikut nyampur).
Panaskan diatas api sedang.
Cairkan agar-agar dengan sedikit air, masukkan.
Masukkan sisa bahan yg lain (gula pasir, vanilla essense), aduk rata.
Tunggu sampe mendidih, jangan lupa sesekali diaduk.
Tuang ke cetakan, biarkan dingin.
Klo mnurut mamak mertuaku apaun yang ada santannya harus dikasih garam, biar gurih dan gak enek. Belum nyoba sih, tapi kmarin memang hasil pudding jagungnya tuh manis, tapi agak enek. Yeah, kapan-kapan nyoba lagi ah.
RESEP PUDING COKLAT SEDERHANA
Source : ngarang …………. he he he …
Bahan:
1 sachet agar-agar coklat (aku pake nutrijel)
1 sachet susu coklat kental manis
4 gelas air
Gula sesuai selera
Cara buatnya:
Campur semua bahan sambil didihkan diatas api sedang.
Weekend kemarin tiba-tiba aja pengen berkarya di dapur bikin apa gitu. Mumpung libur dan pengen aja menambah kemampuan di bidang perdapuran yang memang minim banget. Pingin buat snack atawa kudapan yang enak dimakan saat udara mulai panas di siang hari. Celingak-celinguk di kulkas mungil milik mommy, kira-kira apa ya yang bisa disulap jadi sesuatu yang seger … gitu, eh, nemu jagung manis sebiji sisa kemarin bikin dadar jagung. Trus ada agar – agar coklat plus agar-agar plain, tuing, knapa gak bikin pudding aja … nyoba resep pudding jagung yang itu tuh, trus dilapis sama pudding coklat, kan enak, kebetulan juga ada susu kental manis sachet buat campurannya.
Mulailah berkarya di dapur mungil tercinta dengan mengerahkan segenap tenaga (he he he). Pertama kali nie buat pudding jagung. So kupatuhi semua instruksi yang ada di resepnya. Plek pokoknya sama sang resep. Klo si pudding coklat aku ngarang-ngarang aja, tapi hasilnya, lah, kok malah enak pudding coklatnya ya ( he …)
Pas mateng pudding jagungnya sih kliatan oke, rasanya manis, tapi kek kurang apa… gitu. Diaduk-aduk terus biar santannya gak pecah trus hasilnya bagus. Aku nyiapin dua loyang coz memang udah rencana buat dua, satu tuk dirumah dan satunya lagi mo dibawa ke rumah Mamak. Yang buat di rumah, maunya buat dua lapis aja, jagung diatas, trus ntar bawahnya pudding coklat. Klo yang buat Mamak mertua tercinta ntar berlapis-lapis.
Loyang kedua yang buat Mamak hasilnya oke punya, karena lapisannya tipis so cepet beku dan antara pudding coklat dan jagung gak nyampur. Kecelakaan justru terjadi di Loyang pertama. Puding jagungnya yang ku kira udah beku ternyata belum beku sempurna, so saat kutuang pudding coklat diatasnya, permukaannya langsung pecah sodara-sodara ….. dan dengan sukses pudding coklatnya nyampur dengan pudding jagung ….. untung nuangnya baru satu sendok sayur…
Seperti inilah jadinya saat udah beku (harap maklum, masih belajar masak, belajar motret juga…)
He he, kayak lapis tiga yak …
Yah, namanya juga masih taraf belajaran, trus pas mamak ngicipi rasanya, katanya pudding coklatnya dah enak, tapi pudding jagungnya manisnya enek gitu, gak bisa gurih. Dan menurut beliau lagi, semua bahan klo pake santan harus ditambah sedikit garam (1/2 sdt) gitu, biar gurih dan mantappp. Makasih mamak, akan kuingat slalu nasehat darimu …
RESEP PUDING JAGUNG
Source: dapurdiva@blogspot.com
Bahan :
1 buah jagung manis, sisir dan blender sampe lembut sama 1 gelas air (225 cc)
1 sachet agar – agar plain (5 gr)
3 gelas (675 cc) air/ santan/ susu low fat (aku pake santan 1½ gelas dan air 1½ gelas juga)
1 sdm vanilla essence (aku gak pake)
7 sdm gula pasir (aku pake 6 sendok aja coz jagungnya udah manis)
½ sdt garam (di resep awal gak ada so kmarin aku juga gak pake)
Cara Membuat :
Siapkan cetakan, basahi dengan air, biar puding gampang kluarnya.
Campur blenderan jagung sama air/susu/santan (klo aku jagungnya tak saring dulu biar kulit arinya gak ikut nyampur).
Panaskan diatas api sedang.
Cairkan agar-agar dengan sedikit air, masukkan.
Masukkan sisa bahan yg lain (gula pasir, vanilla essense), aduk rata.
Tunggu sampe mendidih, jangan lupa sesekali diaduk.
Tuang ke cetakan, biarkan dingin.
Klo mnurut mamak mertuaku apaun yang ada santannya harus dikasih garam, biar gurih dan gak enek. Belum nyoba sih, tapi kmarin memang hasil pudding jagungnya tuh manis, tapi agak enek. Yeah, kapan-kapan nyoba lagi ah.
RESEP PUDING COKLAT SEDERHANA
Source : ngarang …………. he he he …
Bahan:
1 sachet agar-agar coklat (aku pake nutrijel)
1 sachet susu coklat kental manis
4 gelas air
Gula sesuai selera
Cara buatnya:
Campur semua bahan sambil didihkan diatas api sedang.
Kwetiau Goreng Campur Sawi
Bahan:
200 gr kwetiau
250 gr ayam
200 gr sawi
200 ml kaldu ayam
1 buah tomat
2 batang bawang daun
¼ bawang Bombay
4 siung bawang putih
5 siung bawang merah
1 sdt merica
1 sdt minyak wijen
1 sdm saus tiram
2 sdm minyak goreng
Gula dan garam secukupnya
Margarin tuk menumis secukupnya
Cara Buatnya:
1. Rebus kwetiau sampai lunak (kira2 3 menit), tiriskan, campur dengan minyak goreng agar tidak mengempal.
2. Rebus ayam sampai lunak, potong dadu, sisihkan.
3. Haluskan 2 siung bawang putih, merica dan garam, sisihkan.
4. 2 siung bawang putih dan 5 siung bawang merah digeprak (dimemarkan), lalu rajang halus, sisihkan.
5. Bawang Bombay dan bawang daun diiris tipis, sisihkan.
6. Panaskan margarine, masukkan bawang putih dan bawang Bombay, tumis sampai layu dan harum, masukkan bawang merah dan bumbu halus, tumis sampai harum.
7. Tambahkan kaldu, biarkan sampai mendidih, kemudian berturut – turut masukkan sawi yang sudah dicuci bersih dan dipotong-potong, irisan tomat dan daun bawang, kemudian kwetiau.
8. Tambahi saus tiram dan minyak wijen, cicipi rasanya, masak hingga tanak dan bumbu meresap.
Sabtu, 12 Maret 2011
BUBUR a.k.a JENANG
Sekitar sebulan yang lalu saya terserang Colix Abdomen alias radang pencernaan, BABnya cair berhari-hari, belum lagi lemesnya ditambah lambungnya atit dan dan mulut jadi pahit. Kata dokter harus makan yang halus-halus, gak boleh kena pedes sama asam, hadyuh menderita banget dyeh jadinya, coz nyaris seminggu penuh cuma makan bubur nasi pake abon. Anyep, gak ada gurih-gurihnya, mana aku gak suka abon lagi. Pada hari keberapa gitu akhirnya dapet Bubur Sumsum yang manis di lidah, serasa surga, he he …
BUBUR SRUNTUL
(a.k.a Jenang Candil or Grendul or ada yang nyebut Biji Salak lho)
Sumber : mbahputrimurtini.com
Bahan Candil :
300 gram tepung ketan
100 gram tepung kanji
25 gram gula pasir
½ sdt vanili essens
sejumput garam
air hangat secukupnya
Bahan bubur :
100 gula merah (atau sesuai selera), disisir
300 mL air
1 lbr daun pandan
2 sdm tepung ketan + 1 sdm tepung kanji dilarutkan pake air.
Bahan kuah santan :
100 ml santan kental
1 sdm tepung kanji untuk pengental
1 lembar daun pandan (klo g ada ganti vanilla essence)
Cara Membuat :
1. Buat Candil : Campur smua bahan, masukkan air sedikit demi sedikit. Uleni sampe adonan rata dan bisa dipulung. Kalo kurang lemes, bisa tambahkan air lagi. Bentuk butiran kelereng. masukkan di air mendidih sampai candil mengapung.
2. Buat buburnya : klo candil udah matang (mengapung) masukkan gula merah dan daun pandan, terakhir masukkan larutan tepung ketan & tepung kanjinya. Aduk –aduk sampai matang dan mengental.
3. Buat Kuah santannya : campur smua bahan, didihkan, pake api kecil aja. Kalo sudah mendidih. Angkat, dinginkan.
4. Penyajian : Taruh bubur candil di mangkuk, siram dengan kuah santan.
BUBUR SUMSUM PANDAN
Sumber : mbahputripatmiati.com
Bahan:
175 gr tepung beras
1750 ml santan
1 sdt garam
2 lbr daun pandan, di ikat
Bahan Juruh (Saus Gula Merah):
300 gr gula merah, sisir
50 gr gula pasir
150 ml air
1 lbr daun pandan
Cara membuat:
Bubur :
Larutkan tepung beras dengan sebagian santan, sisihkan.
Rebus sisa santan bersama garam dan daun pandan sampai mendidih.
Tuangkan larutan tepung beras, aduk-aduk sampai kental dan matang. Angkat.
Juruh:
Rebus gula jawa, gula pasir, air, dan daun pandan sampai mendidih dan gula larut. Angkat lalu saring.
Sajikan bubur sumsum bersama juruh.
PS: ada yang juruhnya pake santan, jadi kayak kuahnya kolak gitu. Cara buatnya sama seperti buat juruh diatas cuma ditambah 250 ml santan (or 1 bungkus santan kara), tambah air sampai tingkat kekentalan yang diinginkan, trus bisa juga ditambah irisan nangka buat aroma. Nangkanya dimasukkan terakhir ya, setelah juruh matang.
Sebenernya yang namanya Bubur Sumsum itu dimana-mana ya warnanya putih, tapi kmarin pas dirumah kebetulan ada pasta pandan trus lagi pengen buat yang nyeleneh gitu, jadilah Bubur Sumsumnya warna ijo he he
BUBUR SRUNTUL
(a.k.a Jenang Candil or Grendul or ada yang nyebut Biji Salak lho)
Sumber : mbahputrimurtini.com
Bahan Candil :
300 gram tepung ketan
100 gram tepung kanji
25 gram gula pasir
½ sdt vanili essens
sejumput garam
air hangat secukupnya
Bahan bubur :
100 gula merah (atau sesuai selera), disisir
300 mL air
1 lbr daun pandan
2 sdm tepung ketan + 1 sdm tepung kanji dilarutkan pake air.
Bahan kuah santan :
100 ml santan kental
1 sdm tepung kanji untuk pengental
1 lembar daun pandan (klo g ada ganti vanilla essence)
Cara Membuat :
1. Buat Candil : Campur smua bahan, masukkan air sedikit demi sedikit. Uleni sampe adonan rata dan bisa dipulung. Kalo kurang lemes, bisa tambahkan air lagi. Bentuk butiran kelereng. masukkan di air mendidih sampai candil mengapung.
2. Buat buburnya : klo candil udah matang (mengapung) masukkan gula merah dan daun pandan, terakhir masukkan larutan tepung ketan & tepung kanjinya. Aduk –aduk sampai matang dan mengental.
3. Buat Kuah santannya : campur smua bahan, didihkan, pake api kecil aja. Kalo sudah mendidih. Angkat, dinginkan.
4. Penyajian : Taruh bubur candil di mangkuk, siram dengan kuah santan.
BUBUR SUMSUM PANDAN
Sumber : mbahputripatmiati.com
Bahan:
175 gr tepung beras
1750 ml santan
1 sdt garam
2 lbr daun pandan, di ikat
Bahan Juruh (Saus Gula Merah):
300 gr gula merah, sisir
50 gr gula pasir
150 ml air
1 lbr daun pandan
Cara membuat:
Bubur :
Larutkan tepung beras dengan sebagian santan, sisihkan.
Rebus sisa santan bersama garam dan daun pandan sampai mendidih.
Tuangkan larutan tepung beras, aduk-aduk sampai kental dan matang. Angkat.
Juruh:
Rebus gula jawa, gula pasir, air, dan daun pandan sampai mendidih dan gula larut. Angkat lalu saring.
Sajikan bubur sumsum bersama juruh.
PS: ada yang juruhnya pake santan, jadi kayak kuahnya kolak gitu. Cara buatnya sama seperti buat juruh diatas cuma ditambah 250 ml santan (or 1 bungkus santan kara), tambah air sampai tingkat kekentalan yang diinginkan, trus bisa juga ditambah irisan nangka buat aroma. Nangkanya dimasukkan terakhir ya, setelah juruh matang.
Sebenernya yang namanya Bubur Sumsum itu dimana-mana ya warnanya putih, tapi kmarin pas dirumah kebetulan ada pasta pandan trus lagi pengen buat yang nyeleneh gitu, jadilah Bubur Sumsumnya warna ijo he he
Selasa, 22 Februari 2011
Tumis Sayur Telur Puyuh
Sebenernya ni menu suka-suka, kebetulan waktu itu adanya wortel ama bunga kol, ya jadilah ...
Bahan
200 gr wortel
200 gr bunga kol
20 butir telur puyuh
200 ml santan
Pelengkapnya (bisa pake bisa nggak)
Bawang goreng tuk taburan
Bumbu Iris
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1 ruas jari lengkuas
5 buah cabe rawit (atau lebih klo pengen pedas)
½ butir Tomat
Bumbu Uleg (dihaluskan):
1 buah cabe merah
1 siung bawang putih
2 butir kemiri
Gula dan Garam secukupnya
Cara Bikinnya:
1. Panaskan minyak trus tumis bumbu iris sampai harum, masukkan bumbu halus, tumis lagi sampai harum.
2. Masukkan wortel dan bunga kol yang udah direbus dulu setengah matang, tumis sampai agak layu.
3. Tambahkan santan secukupnya.
4. Masukkan telur puyuh dan tomat, trus masak sampai matang.
5. Jangan lupa cicipi rasanya.
6. Hidangkan pake taburan bawang merah goreng
Bahan
200 gr wortel
200 gr bunga kol
20 butir telur puyuh
200 ml santan
Pelengkapnya (bisa pake bisa nggak)
Bawang goreng tuk taburan
Bumbu Iris
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1 ruas jari lengkuas
5 buah cabe rawit (atau lebih klo pengen pedas)
½ butir Tomat
Bumbu Uleg (dihaluskan):
1 buah cabe merah
1 siung bawang putih
2 butir kemiri
Gula dan Garam secukupnya
Cara Bikinnya:
1. Panaskan minyak trus tumis bumbu iris sampai harum, masukkan bumbu halus, tumis lagi sampai harum.
2. Masukkan wortel dan bunga kol yang udah direbus dulu setengah matang, tumis sampai agak layu.
3. Tambahkan santan secukupnya.
4. Masukkan telur puyuh dan tomat, trus masak sampai matang.
5. Jangan lupa cicipi rasanya.
6. Hidangkan pake taburan bawang merah goreng
TUMIS TEMPE TAOGE KUAH SANTAN
Bahan
250 gr taoge
1 buah tempe potong dadu
200 ml santan
Pelengkapnya (bisa pake bisa nggak)
100 gr udang
Bawang goreng tuk taburan
Bumbu Iris
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1 ruas jari lengkuas
5 buah cabe rawit (atau lebih klo pengen pedas)
½ butir Tomat
Bumbu Uleg (dihaluskan):
1 buah cabe merah
1 siung bawang putih
2 butir kemiri
Gula dan Garam secukupnya
Cara Bikinnya:
1. Panaskan minyak trus tumis bumbu iris sampai harum, masukkan bumbu halus, tumis lagi sampai harum.
2. Masukkan taoge dan tempe, tumis sampai taoge agak layu.
3. Tambahkan santan secukupnya.
4. Masukkan tomat trus masak sampai matang.
5. Jangan lupa cicipi rasanya.
6. Hidangkan pake taburan bawang merah goreng
SERBA SAMBAL
Misua tercinta, Pak Sirhandinatha, tuh hobi banget sama yang namanya sambal. Dulu pas pacaran, klo ngajak makan keluar pasti gak jauh – jauh menunya dari yang namanya sambal plus lalapan. Mulai dari Ayam, Bebek, segala jenis ikan dari Wader sampe Gurame, pasti akhirnya digoreng or dibakar yang penyajiannya pasti juga pake sambal dan lalapan. Dan sekarang setelah married, jadilah aku sering nyambal atas request misua. Berikut ini adalah jenis – jenis sambal yang pernah aku buatin tuk suami or yang kita pernah wisata kuliner
SAMBAL KOREK
Sumber : pas makan di Bebek Goreng H.S di Kediri
Bahan:
Cabe rawit
Bawang putih
Garam
Minyak tuk menggoreng
Cara membuat:
Cabe rawit dan bawang digoreng sampai matang trus di uleg dengan garam dan sedikit minyak sisa menggoreng cabe dan bawang tadi.
Tips : ngulegnya jangan terlalu halus, trus cabe rawitnya yang masih kuning – kuning gitu, jadi belum yang masak benar.
SAMBAL KEMANGI
Sumber : sambal khas di warung lalapan Bu Asih, Selorejo, Kab. Malang
Bahan :
3 siung Bawang merah
1 siung Bawang putih
1 buah Cabe merah
5 buah Cabe rawit
1 buah Tomat
1 buah jeruk sambal (or ½ butir jeruk nipis)
Daun Kemangi secukupnya
Terasi secukupnya
Gula dan garam secukupnya
Cara Membuat:
Bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit dan tomat digoreng sampai matang. Trus haluskan bersama terasi, gula dan garam. Tambahkan jeruk nipis dan daun kemangi, uleg sampai merata.
SAMBAL TAHU & KACANG PANJANG
Sumber : ibu mertua tercinta
Bahan:
1 buah tahu
3 buah kacang panjang lalapan
Sambal:
3 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1 buah cabe merah
3 buah cabe rawit (or sesuai selera)
1 buah tomat or jeruk nipis
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara membuat:
1. Tahu dipotong sesuai selera, goreng ½ matang, sisihkan
2. Kacang panjang dipotong kecil – kecil (kira-kira 1 – 2 cm), sisihkan
3. Semua bahan sambal dihaluskan.
4. Penyajiannya tahu dan kacang panjang dipenyet diatas sambal
Note : Misua suka banget sambal jenis ni, tapi aku gak begitu suka coz campuran bawang merah dan bawang putih mentahnya mbuat rasanya agak gimana gitu
SAMBAL KULUPAN
Sumber : Mommy
Bahan:
Sayuran hijau atau putih sesuai selera (yang paling yummy adalah selada air dan kol gepeng)
Labu siam yang masih muda
Sambal:
1 buah cabe merah (or bisa g pake)
3 buah cabe rawit (or sesuai selera)
1 buah tomat or jeruk sambal/ nipis
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara Membuat:
1. Sayuran direbus sampai lunak, sisihkan.
2. Labu siam belah menjadi 4, rebus sampai lunak, sisihkan.
3. Semua bahan sambal dihaluskan.
Tips : paling enak disajikan bersama nasi panas dan saat sayur/ kulupan masih hangat, apalagi klo ditambah tempe malang dan tempe kacang yang digoreng tepung, dipenyet juga diatas sambal.
SAMBAL LALAPAN
Lalapannya seger yak ….
Bahan Lalapan
Mentimun
Tomat
Kol
Salad
Kacang Panjang atau apa aja yang sesuai selera
Bahan Sambal
3 siung Bawang merah
1 siung Bawang putih
1 buah Cabe merah
5 buah Cabe rawit
1 buah Tomat
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara Membuat
1. Cuci bersih semua sayur, potong sesuai selera, tata di piring saji.
2. Bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit dan tomat goreng sampai matang. Trus haluskan bersama terasi, garam dan gula secukupnya.
3. Sajikan sebagai pelengkap untuk aneka jenis bakaran dan gorengan.
PS : Klo misua sih sukanya terong, tempe dan klotok goreng
SAMBAL BAJAK
Bahan dan cara membuat sama persis dengan sambal lalapan tapi setelah dihaluskan sambal digoreng lagi, bisa ditambah sedikit santan kental, trus dimasak sampai santan mengental/ agak kering.
SAMBAL TERI
Bahan dan cara membuat sama persis dengan sambal bajak tinggal ditambah teri medan yang sudah digoreng ½ matang dulu sebelumnya, aduk rata.
SAMBAL HIJAU/ SAMBAL PADANG
Bahan:
3 siung Bawang merah
1 siung Bawang putih
5 buah Cabe hijau
10 buah Cabe rawit hijau
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara membuat:
Goreng semua bahan dan haluskan bersama terasi, garam dan gula secukupnya.
PS: Sambal nie tuk pelengkap masakan padang.
SAMBAL KOREK
Sumber : pas makan di Bebek Goreng H.S di Kediri
Bahan:
Cabe rawit
Bawang putih
Garam
Minyak tuk menggoreng
Cara membuat:
Cabe rawit dan bawang digoreng sampai matang trus di uleg dengan garam dan sedikit minyak sisa menggoreng cabe dan bawang tadi.
Tips : ngulegnya jangan terlalu halus, trus cabe rawitnya yang masih kuning – kuning gitu, jadi belum yang masak benar.
SAMBAL KEMANGI
Sumber : sambal khas di warung lalapan Bu Asih, Selorejo, Kab. Malang
Bahan :
3 siung Bawang merah
1 siung Bawang putih
1 buah Cabe merah
5 buah Cabe rawit
1 buah Tomat
1 buah jeruk sambal (or ½ butir jeruk nipis)
Daun Kemangi secukupnya
Terasi secukupnya
Gula dan garam secukupnya
Cara Membuat:
Bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit dan tomat digoreng sampai matang. Trus haluskan bersama terasi, gula dan garam. Tambahkan jeruk nipis dan daun kemangi, uleg sampai merata.
SAMBAL TAHU & KACANG PANJANG
Sumber : ibu mertua tercinta
Bahan:
1 buah tahu
3 buah kacang panjang lalapan
Sambal:
3 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1 buah cabe merah
3 buah cabe rawit (or sesuai selera)
1 buah tomat or jeruk nipis
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara membuat:
1. Tahu dipotong sesuai selera, goreng ½ matang, sisihkan
2. Kacang panjang dipotong kecil – kecil (kira-kira 1 – 2 cm), sisihkan
3. Semua bahan sambal dihaluskan.
4. Penyajiannya tahu dan kacang panjang dipenyet diatas sambal
Note : Misua suka banget sambal jenis ni, tapi aku gak begitu suka coz campuran bawang merah dan bawang putih mentahnya mbuat rasanya agak gimana gitu
SAMBAL KULUPAN
Sumber : Mommy
Bahan:
Sayuran hijau atau putih sesuai selera (yang paling yummy adalah selada air dan kol gepeng)
Labu siam yang masih muda
Sambal:
1 buah cabe merah (or bisa g pake)
3 buah cabe rawit (or sesuai selera)
1 buah tomat or jeruk sambal/ nipis
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara Membuat:
1. Sayuran direbus sampai lunak, sisihkan.
2. Labu siam belah menjadi 4, rebus sampai lunak, sisihkan.
3. Semua bahan sambal dihaluskan.
Tips : paling enak disajikan bersama nasi panas dan saat sayur/ kulupan masih hangat, apalagi klo ditambah tempe malang dan tempe kacang yang digoreng tepung, dipenyet juga diatas sambal.
SAMBAL LALAPAN
Lalapannya seger yak ….
Bahan Lalapan
Mentimun
Tomat
Kol
Salad
Kacang Panjang atau apa aja yang sesuai selera
Bahan Sambal
3 siung Bawang merah
1 siung Bawang putih
1 buah Cabe merah
5 buah Cabe rawit
1 buah Tomat
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara Membuat
1. Cuci bersih semua sayur, potong sesuai selera, tata di piring saji.
2. Bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit dan tomat goreng sampai matang. Trus haluskan bersama terasi, garam dan gula secukupnya.
3. Sajikan sebagai pelengkap untuk aneka jenis bakaran dan gorengan.
PS : Klo misua sih sukanya terong, tempe dan klotok goreng
SAMBAL BAJAK
Bahan dan cara membuat sama persis dengan sambal lalapan tapi setelah dihaluskan sambal digoreng lagi, bisa ditambah sedikit santan kental, trus dimasak sampai santan mengental/ agak kering.
SAMBAL TERI
Bahan dan cara membuat sama persis dengan sambal bajak tinggal ditambah teri medan yang sudah digoreng ½ matang dulu sebelumnya, aduk rata.
SAMBAL HIJAU/ SAMBAL PADANG
Bahan:
3 siung Bawang merah
1 siung Bawang putih
5 buah Cabe hijau
10 buah Cabe rawit hijau
Terasi, garam dan gula secukupnya
Cara membuat:
Goreng semua bahan dan haluskan bersama terasi, garam dan gula secukupnya.
PS: Sambal nie tuk pelengkap masakan padang.
LODEH REBUNG PLUS MENDOL TEMPE
Tau Rebung kan?
Itu lho tunasnya bambu alias bamboo shoot. Rebung atawa bambu muda ini enak juga klo dibuat lodeh, apalagi kalau dicampur tetelan iga, mantap tenan. Kemarin pas sowan ke rumah mertua, ibu bilang klo beliau punya rebung yang masih segar, fresh from the barongan (bahasa Jawanya tuk rumpun bambu) di belakang rumah . Ibu ngajak suami motong tuh rebung yang akhirnya dibagi dua, buat beliau sendiri dan buat kami bawa pulang.
Lodeh rebung selain enak dicampur daging sapi, enak juga kalau dicampur kikil (kaki sapi atau kambing). Di Jombang sendiri terkenal dengan Sego Kikilnya (Nasi Kikil), yang biasanya sayurnya adalah Lodeh Rebung. Kalau kebetulan berziarah ke Makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, di Cukir, Jombang, is truly recommended tuk nyoba Sego Kikil khas Jombang yang banyak di jual di daerah Mojosongo sekitar 2 km ke arah utara Ponpes, do not worry, meskipun agak jauh tapi daerah ini pasti dilewati kok klo mau ke makamnya Gus Dur, biasanya bukanya sore hari menjelang magrib. So yummy …
Dan hari ini, aku masak Sayur Lodeh Rebung tuk bekal makan siang di kantor, ditambah mendol tempe tuk jadi lauknya.
Lodeh Rebung
Bahan:
500 gr rebung
100 gr daging sapi atau kikil
2 buah pete (klo aku pake ale, sejenis kecambah yang aromanya seperti pete)
2 buah cabe hijau, iris serong.
200 ml santan
200 ml kaldu sapi
25 gr ebi sebagai penyedap
2 lembar daun salam
Bumbu dihaluskan:
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
3 buah cabe rawit
1 buah cabe merah
3 butir kemiri
1 ruas lengkuas
½ ruas kunyit
½ ruas jahe
Gula dan garam secukupnya
Cara buatnya:
1. Rajang rebung sesuai selera, rebus sampai lunak, buang airnya lalu siram dengan air dingin.
2. Rebus daging/ kikil sampai lunak, potong dadu, gunakan sisa air rebusan sebagai kaldu.
3. Jerang rebung bersama kaldu sapi, setelah mendidih masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, pete yang sudah dipotong-potong (klo aku pake ale), dan cabe hijau. Masukkan daging sapi / kikil, aduk rata, masak sampai bumbu meresap dan kaldu tinggal separuhnya.
4. Terakhir masukkan santan dan 2 lembar daun salam, aduk rata, didihkan.
5. Jangan lupa dicicipi asin dan manisnya ya …
Klo di rumahku, lodeh itu serasa nggak lengkap tanpa si Mendol Tempe. Tadi pagi pun kusempatkan diri tuk membuatnya. Mendol Tempe yang digoreng garing, memang pas klo disajikan bersama si Sayur Lodeh.
Mendol Tempe
Bahan:
2 buah tempe ukuran sedang
Bumbu dihaluskan:
2 siung bawang putih
1 buah cabe merah
5 buah cabe rawit (klo mo lebih pedas ditambahi ya …)
1 ruas lengkuas
1 ruas kencur
2 lembar daun jeruk purut
½ sdt terasi
Gula dan garam secukupnya
Cara buatnya:
1. Hancurkan tempe (klo aku tak remet-remet so gak terlalu halus juga) trus dicampur sama bumbu yang udah dihaluskan tadi.
2. Kepal-kepal dan bentuk lonjong pipih or suka-suka wes.
3. Goreng dalam minyak panas sampai garing dan kecoklatan.
4. PS: Gorengnya cukup sekali dibalik aja ya, klo gak bisa ancur nanti di penggorengan.
Klo di Malang ada sejenis tempe yang oleh masyarakat setempat a.k.a mbah putriku disebut tempe pero, tempe ini enak banget klo dibuat mendol karena teksturnya yang pero alias garing so tidak mblenyek klo di campur bumbu. Di Jombang kadang tempenya suka mblenyek gitu trus akhirnya klo digoreng gak bisa garing, klo dipaksa goreng agak lama malah gosong.
Sabtu, 12 Februari 2011
Dadar Jagungku ......
DADAR JAGUNG
Resep dadar jagung yang ini adalah bumbu warisan Eyang Murtini (eyang putri dari bapak). Karena bumbunya pake kunci. Aroma dan rasanya memang tambah sedep dep dep pokoknya ….
Bahan:
3 buah jagung manis (atau 5 buah jagung muda)
1 buah wortel (tadi pagi aku gak pake coz gak ada )
1 ikat daun bawang
1 butir telur
2 sdm tepung terigu (bisa gak pake)
1 sdm tepung kanji/ maizena
Bumbu dihaluskan:
3 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1 buah cabe merah
2 buah cabe rawit
1 ruas jari kunci
½ sdt terasi
Garam dan gula secukupnya
Cara Membuat:
1. Sisir jagung dan haluskan sampai setengah halus (klo terlalu halus g enak), sisihkan.
2. Parut (atau serut) wortel.
3. Daun bawang dirajang halus.
4. Campur jagung, wortel, daun bawang, bumbu yang sudah dihaluskan, tepung terigu, tepung kanji/ maizena dan telur sampai rata.
5. Goreng dengan api kecil sampai kecoklatan, tiriskan.
6. Klo aku tadi pagi jadi sekitar 15 biji.
Resep dadar jagung yang ini adalah bumbu warisan Eyang Murtini (eyang putri dari bapak). Karena bumbunya pake kunci. Aroma dan rasanya memang tambah sedep dep dep pokoknya ….
Bahan:
3 buah jagung manis (atau 5 buah jagung muda)
1 buah wortel (tadi pagi aku gak pake coz gak ada )
1 ikat daun bawang
1 butir telur
2 sdm tepung terigu (bisa gak pake)
1 sdm tepung kanji/ maizena
Bumbu dihaluskan:
3 siung bawang merah
1 siung bawang putih
1 buah cabe merah
2 buah cabe rawit
1 ruas jari kunci
½ sdt terasi
Garam dan gula secukupnya
Cara Membuat:
1. Sisir jagung dan haluskan sampai setengah halus (klo terlalu halus g enak), sisihkan.
2. Parut (atau serut) wortel.
3. Daun bawang dirajang halus.
4. Campur jagung, wortel, daun bawang, bumbu yang sudah dihaluskan, tepung terigu, tepung kanji/ maizena dan telur sampai rata.
5. Goreng dengan api kecil sampai kecoklatan, tiriskan.
6. Klo aku tadi pagi jadi sekitar 15 biji.
Urap-urapnya Jeng Sirhan
Pagi nie …
Tiba-tiba lagi pengen sayur mayur, yang terbayang pertama kali tentu saja pecel. Tapi di rumah lagi gak ada bumbu jadi, secara klo ngulek sendiri pasti makan waktu, jadilah terpikirkan alternatif penggantinya.
Apa ya ….
Yang gak jauh-jauh dari campuran sayur mayur gitu, secara dua hari berturut-turut udah daging-dagingan + santen-santenan gitu … maka jreng … jadilah …
URAP – URAP
Bahan:
Sayur:
1 ikat daun kenikir (klo g ada bisa diganti sawi hijau or kangkung, sebenernya bayam bisa juga tapi jangan pake daun ketela pohon or pepaya coz pahit )
½ butir kubis or sawi putih
1 ikat kacang panjang
1 bungkus taoge (yang panjang, bukan yang pendek, itu buat rawon)
¼ buah kelapa, parut panjang
(PS: kelapanya bukan yang buat santan, tapi juga bukan yang buat bothok coz terlalu muda)
Bumbu:
1 siung bawang putih
1 ruas kencur
1 buah cabe merah
4 buah cabe rawit (bisa lebih or kurang tergantung selera)
2 lembar daun jeruk purut
½ sdt terasi
Gula pasir or Gula merah secukupnya
Garam secukupnya
Cara Membuat:
1. Rebus semua sayur sampe matang and sisihkan
2. Haluskan semua bumbu dan campur dengan kelapa parut
3. Kukus (+ 15 menit) or sangrai campuran bumbu & kelapa parut (klo aku, disangrai coz kelapa yang gosong malah nambah sedep aromanya)
Saran Penyajian:
Urap sayur + bumbu kelapa jadi satu,
Sajikan bersama nasi hangat + tempe + tahu goreng ehm … jadi laper dyeh …
(klo misua selalu minta digorengkan klothok juga, tambah mantep )
Note:
Ini menu two in one lho, klo sayur yang mateng tadi diganti mentimun dipotong kotak kecil-kecil, daun kemangi, ama biji lamtoro trus bumbu kelapanya dibirakan mentah tuing ….. jadilah menu baru TRANCAM mmmm ….
Tiba-tiba lagi pengen sayur mayur, yang terbayang pertama kali tentu saja pecel. Tapi di rumah lagi gak ada bumbu jadi, secara klo ngulek sendiri pasti makan waktu, jadilah terpikirkan alternatif penggantinya.
Apa ya ….
Yang gak jauh-jauh dari campuran sayur mayur gitu, secara dua hari berturut-turut udah daging-dagingan + santen-santenan gitu … maka jreng … jadilah …
URAP – URAP
Bahan:
Sayur:
1 ikat daun kenikir (klo g ada bisa diganti sawi hijau or kangkung, sebenernya bayam bisa juga tapi jangan pake daun ketela pohon or pepaya coz pahit )
½ butir kubis or sawi putih
1 ikat kacang panjang
1 bungkus taoge (yang panjang, bukan yang pendek, itu buat rawon)
¼ buah kelapa, parut panjang
(PS: kelapanya bukan yang buat santan, tapi juga bukan yang buat bothok coz terlalu muda)
Bumbu:
1 siung bawang putih
1 ruas kencur
1 buah cabe merah
4 buah cabe rawit (bisa lebih or kurang tergantung selera)
2 lembar daun jeruk purut
½ sdt terasi
Gula pasir or Gula merah secukupnya
Garam secukupnya
Cara Membuat:
1. Rebus semua sayur sampe matang and sisihkan
2. Haluskan semua bumbu dan campur dengan kelapa parut
3. Kukus (+ 15 menit) or sangrai campuran bumbu & kelapa parut (klo aku, disangrai coz kelapa yang gosong malah nambah sedep aromanya)
Saran Penyajian:
Urap sayur + bumbu kelapa jadi satu,
Sajikan bersama nasi hangat + tempe + tahu goreng ehm … jadi laper dyeh …
(klo misua selalu minta digorengkan klothok juga, tambah mantep )
Note:
Ini menu two in one lho, klo sayur yang mateng tadi diganti mentimun dipotong kotak kecil-kecil, daun kemangi, ama biji lamtoro trus bumbu kelapanya dibirakan mentah tuing ….. jadilah menu baru TRANCAM mmmm ….
Langganan:
Postingan (Atom)













